Aku selalu ingat,sembilan tahun lalu tepat ketika aku masih kelas 4 SD,sehabis tadarus Al quran di Masjid dekat rumah,aku dan kedua sahabatku Septa dan Novan selalu melakukan ritual tiap malam dibulan ramadhan,mencuri buah Mangga yang terletak dibelakang kelas 1 SD yang kebetulan satu lokasi dengan masjid. Mencuri?ah,sebenarnya tak sebegitu negatifnya,sebab aku dulu tak pernah tahu siapa pemilik resmi pohon mangga manalagi ini,milik perorangan?tapi kenapa ditanam disekolah?milik sekolah?ah kalau begitu aku juga berhak mengambil mangga yg selalu berbuah tiap bulan ramadhan ini,logikanya...aku bersekolah disini,kemudian rutin membayar SPP tiap bulannya,timbal baliknya aku mendapatkan ilmu dari guru dan juga menikmati fasilitas sekolah,termasuk mengambil mangga yg tertanam subur dibelakang sekolah,cukup adil kan? Tak dapat dipungkiri,meskipun aku menganggap pohon mangga ini adalah MILIK UMUM,tp aku dan kedua sahabatku selalu dibuat deg degan begitu kami mulai melancarkan aksi tahunan ini,takut kalau nanti dilempar bongkahan batu bata,persis dengan kejadian tahun tahun sebelumnya saat Septa ketahuan sedang nangkring diatas pohon dan jadilah korban kekerasan Pak Ota,untunglah tak satupun lemparan pak Ota mengenainya,bisa panjang urusannya kalau sampai terjadi.. Meski begitu selalu ada kesenangan tersendiri yang aku dan kedua sahabatku rasakan waktu itu,mulai dari sumringahnya aku begitu mendapat buah yang paling masak,sampai saat berhasil meloloskan diri dari intaian lampu senter pak Ota..semuanya begitu mengesankan.Dan sialnya,diantara kami bertiga,akulah yang paling penakut kalau disuruh panjat memanjat,kalaupun mau aku pasti hanya memanjat tak lebih dari dua atau tiga meter,berbeda dengan Septa dan Novan yang memanjat nyaris sampai dipuncaknya,makanya aku paling apes kalok mendapatkan mangga,itulah mengapa aku begitu sumringah begitu mendapat mangga yang menurutku paling manis,sementara Septa dan Novan menanggapinya biasa saja.Dan sialnya untuk kedua kalinya,aku adalah malapetaka bagi mereka berdua,alasannya sederhana,aku tiap memanjat pohon tak pernah terlalu tinggi,dan tentu saja tak ada batang dan ranting yang seutuhnya melindungiku dari intaian lampu senter pak Ota,hal itulah yang menyebabkan kami sering tertangkap basah,tak begitu masalah bagiku,sebab begitu ketahuan aku bisa melompat kemudian lari meloloskan diri,sementara Septa dan Novan?mereka harus pandai pandai bersembunyi diatas pohon,atau lemparan bongkahan batu bata akan menyerang mereka,semenjak itu,tiap kami melakukan rutinitas ba'da tadarrus,salah satu dari mereka berdua selalu mencegahku untuk ikut bersama mereka dengan mengucap "Udah,lu sembunyi aja diparit belakang kelas 4,biar gw dan Novan yg nyari,ntar lu gw kasih dah..." dan selalu saja aku menolak dengan hal itu "Enak aja,gw ikut..gw kan juga pingin merasakan mangga dari jerih payah gw.." mereka berdua tak bisa melarangku lebih lanjut,menurut..seperti lebah yang tunduk pada ratunya. Seiring berjalannya waktu,kami sudah tak lagi melakukan ritual tahunan itu,kenapa?apakah sudah takut akan dosa?bukan,bahkan ketika kami melakukannya sebenarnya aku juga tahu kalau hal itu sudah dilarang,lebih tepatnya tahu ketika dulu salah satu dewan guru membicarakannya waktu pidato pada saat upacara bendera. Lalu?alasannya sebenarnya sederhana,pohon mangga itu telah tiada,ditumbangkan...kemudian roboh,dan beberapa bulan kemudian lahan itu dijadikan tempat parkir sampai sekarang,tanah tertutup dengan semen,semua kenangan itu tertutup oleh kandungan aluminium oksida (alumina) batu kapur (kaya akan kalsium karbonat) dan tanah lempung yang banyak mengandung silika (sejenis mineral berbentuk pasir),serta oksida besi__